Blogroll

Pages

Jumat, 07 Desember 2012

Nanas yang di Budidayakan di subang


PROFIL NANAS DI KABUPATEN SUBANG
  
I.       KONDISI SAAT INI
a.      IDENTITAS KOMODITI
Nanas cv. Smooth Cayenne berukuran besar, berat buah antara 1,5 - 5 kg (rata-rata 2,3 kg). Bentuk buahnya lonjong atau silindris, warna kulit buah hijau kekuningan, dengan mata yang datar. Daging buahnya berwarna kuning pucat sampai kuning. Inti buahnya berukuran sedang. Rasa buahnya manis asam, rendah serat dan berair serta memiliki aroma yang khas. Karena rasanya yang agak masam, nenas cv. Smooth Cayenne sangat baik sebagai bahan olahan, seperti selai,  juice, nenas kaleng, pure dan lain sebagainya.

b.      DATA LUAS TANAM, LUAS PANEN DAN PRODUKSI
Dari Tabel 1, kecamatan Jalancagak merupakan sentra utama pengembangan nenas di kabupaten Subang dengan luas areal 2608 Ha atau sekitar 80 % dari total pengembangan seluas 3.253 Ha.
Tabel 1. Keragaan Sentra Produksi Nenas di Kabupaten Subang Tahun 2003
Kecamatan
Luas Areal (Ha)
Produksi (Ton)
Jalancagak
2.608
98.880,0
Sagalaherang
12
450,0
Cijambe
133
4.987,5
Cisalak
500
18.750,0
Jumlah
3.253
123.067,5
      Sumber : Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Subang, 2004
Dari Tabel 2 dapat dilihat Desa Bunihayu, Kumpay, Curugrendeng, Tambakan, Tamabak Mekar dan Cimanglid merupakan daerah yang terluas menanam nenas yaitu 492 ha, 372 ha, 268 ha, 229 ha, 215 ha dan 286 ha. Sedangkan desa lainnya dibawah 200 ha.
Tabel 2. Keragaan Sentra Nenas di Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang
No.
Desa
Luas Areal
(Ha)

Jumlah Produksi

(Ton)
1
Jalancagak
117
4.579
2
Curugrendeng
268
10.187
3
Bunihayu
492
18.717
4
Tambakan
229
8.717
5
Tambak mekar
215
8.794
6
Kumpay
372
11.447
7
Kasomalang Wetan
102
3.875
8
Kasomalang Kulon
141
6.197
9
Cisaat
67
2.138
10
Cibitung
39
1.631
11
Cimanglid
286
12.724
12
Sarireja
143
5.497
13

Sanca

131
4.377

Jumlah
2.608
98.880
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Subang, 2004
Sebagai tanaman rakyat, budidaya nenas di Kabupaten Subang dilakukan secara sederhana di sekitar pekarangan rumah dan tegalan, dengan input teknologi yang terbatas. Bentuk kebun rata-rata belum sehamparan dan letaknya terpencar.
Oleh karena itu, produktivitas nenas yang dihasilkan pada umumnya masih berkisar antara 20 - 35 ton/ha. Apabila teknologi budidaya dilakukan dengan lebih baik, produktivitas nenas Subang dapat ditingkatkan sampai dengan 50 - 60 ton/ha.
Rendahnya produktivitas nenas juga disebabkan karena tanaman yang diusahakan sebagian besar berumur diatas 10 tahun. Agar tanaman dapat berproduksi tinggi dengan kualitas yang terjamin, perlu dilakukan pembongkaran tanaman dan menggantikannya dengan pertanaman baru yang berasal dari bibit baru. Sebagian petani yang bermodal telah melakukan budidaya secara intensif. Mereka umumnya juga mempunyai posisi kuat dalam pemasaran.
Masa panen nenas di Kabupaten Subang berlangsung sepanjang tahun, Panen raya terjadi pada bulan Oktober sampai Januari, dengan rata-rata produksi 20 - 35 ton/ha. Panen sepanjang tahun dapat dilakukan karena petani melakukan pengaturan pola tanam dan pengaturan pembungaan dengan ethrel.

II.    PELUANG INVESTASI
a.      POTENSI PENGEMBANGAN           
Kabupaten Subang sebagai sentra produksi nenas terbesar di Jawa Barat, memiliki potensi akses pasar yang baik untuk pengembangan komoditas nenas, mengingat posisinya yang sangat strategis, berjarak 161 km dari Jakarta dan 58 km dari Bandung.
Nenas Subang merupakan tanaman rakyat yang ditanam secara turun temurun. Nenas tersebut tumbuh baik di lahan kering. Karena tuntutan agroklimat yang relatif mudah dipenuhi dan gangguan hama penyakit sedikit, oleh karena itu tanaman nenas mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan di Kabupaten Subang.
Berdasarkan kesesuaian lahan dan agroklimat, potensi lahan yang tersedia untuk pengembangan nenas adalah 2.710 ha seperti terlihat pada tabel 3.
Tabel 3. Potensi Pengembangan Nenas di Kabupaten Subang

Kecamatan
Potensi yang ada (Ha)
Potensi Pengembangan (Ha)
Realisasi Produktivitas (ton/Ha)
Sasaran Produktivitas (ton/Ha)
Cijambe
48
627
20 - 30
40 - 60
Cisalak
4
383
20 - 30
40 - 60
Tanjungsiang
3
82
20 - 30
40 - 60
Sagalaherang
2
123
20 - 30
40 - 60
Jalancagak
2.500
1.495
20 - 30
40 - 60

Jumlah

2.551
2.710



b.      KONDISI LAHAN DAN AGROKLIMAT 
Tanaman nenas yang diusahakan di Kabupaten Subang terletak di daerah dengan ketinggian tempat 300 - 500 m di atas permukaan laut, pH  tanah berkisar antara 5,5 - 7 dan suhu rata-rata 21 C - 27 C. Berdasarkan tipe iklim Oldeman, Kabupaten Subang memiliki tipe iklim C dan D. Daerah tersebut memiliki curah hujan 3.241 mm/tahun, dengan jumlah hari hujan 365 hari, sedangkan jumlah bulan basah (curah hujan> 200 mm) 2 bulan, bulan kering (curah hujan < 100 mm) 7 bulan.
Tabel 4. Kondisi Beberapa Sentra Produksi Nenas di Kabupaten Subang
Kecamatan
Tinggi dari Permuk.Laut
Kemiringan wilayah
Datar
< 10%
> 10%

.. m ..
 ha 
Subang
100 - 200
11.200
11.200
3.214
Pagaden
95 - 105
-
-
5.912
Binong
25
6.730
11.364
12.655
Purwodadi
32
-
456
7.575
Sagalaherang
120 - 1.050
-
8.428
-
Cisalak
300 - 500
-
-
6.172
Jalancagak
400 - 1.050
-
6.636
-
           
c.       KERAGAAN KEBUN DAN PERTANAMAN
Sentra utama pengembangan nenas di Kabupaten Subang, tersebar di lima Kecamatan, yaitu Kecamatan Sagalaherang, Jalancagak, Cisalak, Tanjungsiang, dan Cijambe. Disamping itu, nenas juga dikembangkan di Kecamatan Cibogo, Pagaden, Purwadadi, Patokbeusi, Binong, Compreng dan Subang.
Jenis tanah di masing-masing Kecamatan sentra nenas diantaranya adalah Kecamatan Sagalaherang memiliki jenis tanah Regosol, Kecamatan Jalan Cagak memiliki jenis tanah Aluvial, Kecamatan Cisalak memiliki jenis tanah Andosol, Kecamatan Tanjungsiang memiliki jenis tanah Regosol dan Kecamatan Cijambe memiliki jenis tanah yang bervariasi, Regosol dan Aluvial. 

d.      DUKUNGAN SARANA DAN PRASARANA
Dukungan sarana dan prasarana untuk pengembangan nenas di kabupaten Subang cukup baik. Sarana prasarana pendukung dalam usaha agribisnis nenas di Kabupaten Subang diantaranya adalah :
a.         Jaringan transportasi berupa jalan-jalan, cukup baik dan lancar
b.        Sarana transportasi yang banyak digunakan adalah motor dan mobil
c.         Kelembagaan KUD dan Koperasi Tani
d.        Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai lembaga penyedia modal
e.         Kios pupuk
f.         Kios buah di pinggir-pinggir jalan.
g.        Pedagang pengumpul

Dukungan sarana dan prasarana yang cukup baik tersebut, diharapkan dapat membantu kelancaran kegiatan usaha agribisnis nenas mulai dari penyediaan saprodi sampai dengan pemasaran hasil.

e.       PEMASARAN
a)      Pemasaran buah nenas pada umumnya dipasarkan dalam bentuk segar, dan sebagian diolah menjadi dodol. Rantai pemasaran nenas yang ada di Kabupaten Subang adalah:
(1)   Petani - Konsumen : petani menjual hasil produksinya ke konsumen, dengan cara membuat kios buah di depan rumahnya.
(2)   Petani Tengkulak Kios Buah dan pasar - Konsumen : petani menjual nenas ke tengkulak atau pedagang pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual ke konsumen melalui pasar, maupun kios-kios buah
(3)   Petani  Tengkulak Perusahaan Mitra  Konsumen : petani menjual nenas kepada tengkulak atau pedagang pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual ke perusahaan mitra (pabrik pengolahan nenas), dan perusahaan mitra menjual nenas olahan ke konsumen.
b)      Harga nenas Subang di tingkat petani bervariasi antara Rp. 200,- sampai Rp. 1.000,- per kilogramnya, tergantung dari kualitas buah dan masa panen. Sedangkan harga nenas di tingkat pedagang/pengusaha/perusahaan mitra  sekitar Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1000,- per kilogram. Harga nenas di kios-kios buah yang terdapat di pinggir-pinggir jalan berkisar antara Rp. 2000,- Rp 3000,- per buah. Sedangkan untuk nenas madu,harganya lebih mahal, dapat mencapai Rp. 5.000,- Rp 6.000,- per buahnya.

III. PERMASALAHAN
Permasalahan dalam pengembangan usaha agribisnis nenas adalah kesenjangan teknologi dan keterbatasan kemampuan petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang baik dan benar. Permasalahan tersebut mencakup :
a.       Skala Usaha
      Pada umumnya kondisi kepemilikan lahan nenas per petani di Subang masih relatif sempit. Banyak petani yang memiliki lahan kurang dari satu hektar. Namun demikian, beberapa petani di sentra produksi nenas seperti di Subang, Jawa Barat ada yang memiliki lahan seluas 3 hektar. Karena ukuran lahan yang sempit belum dapat memenuhi skala usaha yang ekonomis untuk agribisnis nenas. Skala usaha yang kecil dan tersebar tersebut menyebabkan beragamnya produk yang dihasilkan.

b.      Kontinuitas Produksi
      Beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam menjaga kontinuitas suplai buah nenas ke pasar atau pabrik pengolahan, yaitu :
1)      Penggunaan bibit yang tidak unggul dan hal ini menyebabkan produksi buah tidak seragam.
2)      Penerapan teknologi budidaya yang kurang baik, sehingga produktivitasnya rendah mutu produk yang dihasilkan rendah. 
3)      Masalah kesepakatan harga antara petani dan pabrik pengolahan nenas, yang menyebabkan petani seringkali menjual produknya ke pedagang lain.
4)      Kepemilikan lahan petani sangat terbatas.

c.       Mutu
            Beberapa hal yang mempengaruhi kualitas buah nenas yang dihasilkan oleh petani adalah :
1)      Waktu dan cara panen yang belum diterapkan secara baik dan benar.
2)      Terbatasnya permodalan yang dimiliki petani, sehingga petani tidak mempunyai kekuatan untuk menerapkan usahatani nenas dengan baik dan benar. Seperti penggunaan benih unggul, pemeliharaan tanaman, penanganan panen dan lain sebagainya.
3)      Terbatasnya fasilitas pascapanen, yang mengakibatkan menurunnya kualitas buah nenas yang telah dipanen.
4)      Masih minimnya penanganan buah nenas selama diperjalanan dari kebun sampai ke pasar. Hal ini menyebabkan meningkatnya prosentase kerusakan buah.

d.      Pasar
      Permasalahan yang seringkali timbul dalam pemasaran nenas adalah karena kurangnya informasi mengenai pasar, baik jumlah permintaan maupun waktunya menyebabkan anjloknya harga nenas terutama pada saat panen raya (produksi nenas sedang melimpah).
            Beberapa kendala yang dihadapi para eksportir dalam menembus pasar internasional (pasar ekspor), diantaranya adalah sebagai berikut :
1)      Kurangnya informasi mengenai peluang pasar internasional
2)      Mahalnya biaya pengiriman. Sehingga harga jual produk kalah bersaing dengan negara exportir lainnya seperti Thailand.
3)      Sulitnya penyediaan buah yang memiliki mutu sesuai dengan permintaan konsumen
4)      Kontinuitas produksi nenas yang mempengaruhi kontinuitas suplai. 

e.       Pengembangan Industri Rumah Tangga.
      Usaha agroindustri nenas skala kecil mengolah nenas menjadi berbagai produk olahan seperti dodol, manisan, kripik, dan jus. Produk-produk tersebut dipasarkan untuk masyarakat menengah ke bawah di beberapa kota tertentu. Namun, karena terbatasnya teknologi dan modal, industri rumah tangga ini belum dapat berkembang dengan cepat. Oleh karena itu, industri skala rumah tangga ini masih banyak memerlukan bimbingan dan pembinaan dari pemerintah baik dalam pengembangan teknologi, kesiapan sumber daya manusia, manajemen usaha, modal usaha dan pemasaran.

f.       Kemitraan dan Kelembagaan/Gapoktani.
      Berbagai hal yang menjadi penyebab belum berkembangnya kemitraan antara petani dan agroindustri besar antara lain sulitnya mencapai kesepatan harga, standar mutu buah yang sulit untuk dicapai oleh petani nenas, dan jumlah pasokan bahan baku yang sesuai kapasitas pabrik setiap hari.
Belum diterapkannya usahatani nenas secara berkelompok yang dijalankan dengan prinsip-prinsip bisnis akan menghasilkan produk yang mempunyai daya saing tinggi. Daya saing tinggi dapat dicapai dengan peningkatan efisiensi, produktivitas dan mutu oleh manajemen kelompok. Peningkatan produktivitas dan mutu tersebut dapat dicapai melalui pemanfaatan atau adopsi teknologi.

1 komentar:

  1. Maaf bisa minta contect person petani nanas di subang?

    BalasHapus